-->

Kumpulan Tutorial Mikrotik Indonesia

Belajar Mikrotik berupa Tutorial mikrotik, Setting Mikrotik Hotspot, Download Winbox Mikrotik ada disini Tutorial Mikrotik Indonesia blog

Monday, February 15, 2021

NAMA : AHMAD TAUFIQURROHMAN NIM : 203180258 KELAS : GMI G GENDER SEBAGAI PERSPEKTIF A. PENDAHULUAN Gender mangandung arti seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat dimana manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Persoalan tentang gender masih menjadi masalah dikalangan masyarakat seperti tentang ketidakadilan bagi seorang perempuan yang selalu dianggap dianggap lemah oleh laki-laki sehingga menimbulkan perbedaan dalam bidang publik ataupun bidang domestik. Banyak perempuan yang merasakan diskriminasi yang dilakukan oleh para laki-laki baik itu di lingkup keluarga ataupun lingkup pekerjaan. Namun akan hal itu, sudah banyak sekali upaya yang dilakukan antara lain yaitu dari usaha sendiri dari perempuan yang sebenarnya menolak dengan kemauannya sampai perlindungan dari pihak negara. Namun hal itu ternyata bukanlah solusi yang mampu mengatasi permasalahan ini dengan cepat, apalagi pada wilayah yang mengusung budaya patriaki. Dimana laki-laki dianggap paling kuat dan paling pantas dalam melakukan suatu hal dibanding dengan perempuan baik di bidang publik ataupun domestik laki-laki selalu mendapatkan hak yang istimewa dibandingkan perempuan. Selain itu ternyata masih banyak gambaran yang selalu menyudutkan perempuan, bahkan sampai di media-media sosial pun perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang lemah, dimana perempuan selalu berada dibawah posisi dan kedudukan laki-laki. Gambaran seperti ini sebenarnya tidaklah benar, dan selain itu gambaran ini juga dapat merusak pemahaman penonton terutama generasi penerus bangsa kedepannya yang akan beranggapan bahwa posisi perempuan atau sifat perempuan selalu seperti itu. Namun dengan adanya pendidikan di Indonesia ini, diharapkan mampu memberantas pemahaman seperti itu dalam waktu singkat ataupun dikemudian hari nanti. B. PEMBAHASAN 1. Gender Sebagai Perspektif Gender mangandung arti seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat dimana manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Setiap masyarakat selalu ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, sehingga dikenal dengan peran gender yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dimana beban berat pada perempuan, yang belum tercapai dan terwujudnya keadilan seperti, contoh belum berimbangnya peran maupun tanggung jawab yang diberikan atau diberlakukan di Negara Indonesia ini khususnya. Gender dibentuk oleh budaya dan lingkungan di masyarakat, oleh karena itu maka gender tidak berlaku selamanya melainkan bergantung pada waktu(tren) dan tempatnya. Gender juga sangat tergantung pada tempat atau wilayahnya, misalnya disuatu daerah perempuan diharuskan memakai rok, karena jika perempan memakai celana dianggap tidak pantas, akan tetapi jika di tempat lain, sudah jarang ditemukan perempuan yang memakai rok. Oleh karena sudah dibentuk oleh masyarakat sendiri, maka gender bisa dipertukarkan, misalnya kalau dulu memasak identik dengan perempuan, maka pada saat ini sudah banyak ditemukan laki-laki yang sudah bisa memasak dan bahkan juga sudah menjadi hobinya, bahkan lebih mendominasi perannya di dapur daripada perempuan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa gender dapat diartikan sebagai kanseo sosial yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan itu tidak ditentukan karena antara keduanya perbedaan biologis atau kodrat, tetapi dibedakan atau di pilah-pilah sesuai dengan kedudukan, fungsi dan perannan masing-masing dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Banyak sekali sekolah yang terlihat menerapkan sistem pembatasan gender, misalnya sekolah khusus laki-laki atau sekolah khusus perempuan, baik itu sekolah negeri ataupun swasta seperti contohnya STM maupun SMEA. Akan tetapi sebenarnya tidaklah seperti itu, dikarenakan di STM dari sekian banyak jurusan disana itu peminatnya banyak yang dari laki-laki, seperti TSM dan sebagainya, begitu pula dengan SMEA banyak jurusan disana yang peminatnya adalah perempuan, sehingga hal ini bukanlah pembatasan akan tetapi suatu hal yang terjadi secara wajar. Akan tetapi ada pula sekolah yang memang hanya menerima yang laki-laki atau yang perempuan saja seperti pondok, akan tetapi ini bukanlah pembedaan antara laki-laki dan perempuan akan tetapi lebih ke pemikiran fiqh, bahwa laki-laki dan perempuan harus dibedakan tempatnya, akan tetapi juga banyak pondok yang siap menerima laki-laki dan perempuan sekaligus, akan tetapi dibedakan tempatnya atau asramanya. Selain itu, ada banyak kasus atau persoalan seperti di Jepang, yang banyak di antara perempuan yang memilih tidak berkeluarga dan memiliki keturunan karena lebih mementingkan karir atau pekerjaannya. Lalu dalam hal ini, apakah bisa menimbulkan perspektif feminisme ? hal seperti itu tidaklah menimbulkan perspektif feminisme, karena itu adalah hak dari perempuan itu sendiri disana, hak untuk berkeluarga atau tidak. Perempuan disana pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa memilih tidak berkeluarga dan mementingkan karir karena takut tidak mendapatkan kebebasan setelah berkeluarga, dan pemerintah di Jepang juga memberikan kebebasan untuk wanita agar sama derajatnya dengan laki-laki. Jadi disana lebih mementingkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Dan sering kita dengar bahwa perempuan juga masih menjadi korban ketidakadilan gender, itu dikarenakan banyak alasan antara lain yaitu karena adanya budaya patriaki budaya yang menempatkan posisi laki-laki berada diatas perempuan, seperti yang membuat pemahaman bahwa tugas seorang istri (perempuan) adalah melayani suami saja dan mengurusi rumah tangga dan suami sebagai kepala rumah tangga hanya bertugas mencari nafkah saja. Namun jika dilihat dari perspektif Islam, tugas mengurus rumah adalah tugas suami, karena budaya patriaki melekat sangat erat di masyarakat maka tugas mengurus rumah adalah tugas istri, karena mengurus rumah identik dengan tugas perempuan. Selain itu banyak perempuan yang merasakan dampak ketidakadilan gender dikarenakan konsep feminisme dimana perempuan dianggap lemaah, sedangkan laki-laki dianggap lebih kuat dari perempuan dan jika perempuan bekerja di bidang publik maka dianggap tidak akan fokus karena setelah bekerja bahkan saat bekerja harus membagi waktu untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, anak, suami, dan sebagainya, karena tidak adanya pembagian tugas antara suami dan istri. Sehingga ini yang menyebabkan banyak perempuan yang bekerja di bidang domestik saja. Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita sebagai perempuan yang bekerja di bidang publik tidak saja di bidang domestik kemudian anda merasa terdiskriminasi atau direndahkan dan dianggap remeh oleh atasan atau rekan kerja kita ? Seperti yang sudah kita ketahui bahwa sekarang ini banyak sekali pelindung yang siap mengayomi para perempuan salah satunya dari negara semua sudah dituliskan bahwa antara laki-laki dan perempuan bisa mendapatkan hak yang sama, maka jika kita merasakan hal seperti itu kita bisa melaporkan insiden tersebut kepada pihak perusahaaan kita bisa mencari solusi dan jalan keluar bersama dengan pihak perusahaan. Selain itu kita jangan lupa bahwa kita juga punya hak untuk keluar dari perusahaan tersebut jika pengaduan tidak lagi didengarkan. Streotyping atau labeling yang melekat pada perempuan yang biasanya berbau negatif, seperti lemah, penakut, dan cengeng yang kemudian memunculkan perbedaan antara laki-laki yang yang dianggap lebih kuat, pemberani, dan tabah. Lalu apakah hal ini dapat mempengaruhi karir seorang perempuan ? Ya, jelas sekali bahwa anggapan seperti ini akan mempengaruhi dan berdampak pada karir seorang perempuan, dikarenakan pembatasan karir berdasarkan pandangan gender, seperti pandangan bahwa pekerjaan hanya untuk laki-laki atau perempuan saja. Contoh seperti pekerjaan otomotif diidentikkan untuk laki-laki, dan juga pekerjaan di bidang tata boga untuk perempuan, dan ini justru tidaklah dibenarkan, karena antara laki-laki dan perempuan bisa mengisi kedua pekerjaan tersebut. Untuk membenahi hal atau pemahaman seperti ini bukanlah hal yang mudah dan selain itu juga memerluka waktu yang panjang, karena ini semua berkaitan dengan pemahaman dan kebiasaan masyarakat sekitar, tidak bisa hanya dilakukan oleh seorang individu saja, namun memulai dengan diri kita (individu) juga bukanlah hal yang salah, paling tidak kita sudah berusaha merubahnya atau membenahi pemahaman tersebut, yang selalu menguntungkan laki-laki. Tidak hanya di dunia nyata, representasi sosial peran dan posisi perempuan di media massa kadang tidak digambar sesuai kenyataan atau sesuai realita yang sebenarnya. Seperti halnya disebuah sinetron dimana ibu tiri dan mertua sangat sering digambarkan sebagai sosok yang jahat. Dimana hal tersebut menggambarkan bahwa sosok perempuan banyak yang memiliki sifat antagonis. Oleh karena itu para orang tua juga harus sesering mungkin dan bahkan selalu memantau perkembangan anaknya dalam media apa yang ditonton baik itu media televisi ataupun media lainnya, agar pemahaman anak tidak salah akan suatu hal yang ditonton dimana itu justru akan merugikan dirinya sendiri terutama. C. PENTUP Gender mangandung arti seperangkat sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan akibat bentukan budaya atau lingkungan masyarakat tempat dimana manusia itu tumbuh dan dibesarkan. Setiap masyarakat selalu ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, sehingga dikenal dengan peran gender yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Dimana beban berat pada perempuan, yang belum tercapai dan terwujudnya keadilan seperti, contoh belum berimbangnya peran maupun tanggung jawab yang diberikan atau diberlakukan di Negara Indonesia ini khususnya. Sekolah yang terlihat menerapkan sistem pembatasan gender, misalnya sekolah khusus laki-laki atau sekolah khusus perempuan. Akan tetapi sebenarnya tidaklah seperti itu, contoh di STM dari sekian banyak jurusan disana itu peminatnya banyak yang dari laki-laki, seperti TSM dan sebagainya, begitu pula dengan SMEA banyak jurusan disana yang peminatnya adalah perempuan, sehingga hal ini bukanlah pembatasan akan tetapi suatu hal yang terjadi secara wajar. Akan tetapi ada pula sekolah yang memang hanya menerima yang laki-laki atau yang perempuan saja seperti pondok, akan tetapi ini bukanlah pembedaan antara laki-laki dan perempuan akan tetapi lebih ke pemikiran fiqh, bahwa laki-laki dan perempuan harus dibedakan tempatnya, akan tetapi juga banyak pondok yang siap menerima laki-laki dan perempuan sekaligus, akan tetapi dibedakan tempatnya atau asramanya. Jadi dari pengertian diatas baik dari bidang publik ataupun domestik perspektif tentang gender itu masih ada yang bermasalah, namun juga banyak yang sebenarnya suatu hal yang wajar tetapi justru dianggap sebagai ketidakadilan gender, jadi tinggal pemahaman kita saja untuk mengetahui perkembangan tentang perspektif gender ini.

0 Komentar

Post a Comment

Silakan anda berikan kritik, saran, masukan atau pertanyaan seputar Mikrotik pada kolom Komentar di bawah ini :

Back To Top