-->

Kumpulan Tutorial Mikrotik Indonesia

Belajar Mikrotik berupa Tutorial mikrotik, Setting Mikrotik Hotspot, Download Winbox Mikrotik ada disini Tutorial Mikrotik Indonesia blog

Tuesday, March 30, 2021

GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

NAMA : AHMAD TAUFIQURROHMAN KELAS : GMI G GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM PENDAHULUAN Gender adalah pengelompokan gramatikal untuk benda menurut jenis kelaminnya. Utamanya digunakan dalam bahasa Eropa (AS. Hornby, n.d.). ungkapan tentang gender kemudian berkembang untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Perbedaan jenis kelamin dan gender ini berkaitan erat dengan ciri-ciri biologis dan fisik tertentu. Tetapi gender lebih banyak terbentuk karena persepsi sosial budaya tentang steoretip perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat. Apakah gender merupakan suatu identitas yang natural. Pendidikan adalah sebuah tonggak untuk manusia mengendalikan dunia. Eksistensinya mampu memunculkan berbagai sudut pandang terhadap gejala sosial, budaya, ekonomi dan juga agama. Empat gejala ini sangat berkaitan erat sekali dengan manusia. Pendidikan islam (at-Tarbiyyah) adalah suatu pengajaran yang yang jangkauannya lebih luas, mulai dari anak-anak hingga tua. Dalam pendidikan islam, telah mengajarkan tentang ketaqwaan terhadap Allah SWT sejak dini, mulai dari ajaran tentang adanya surga dan neraka, manusia-manusia pilihan Allah, malaikat-malaikat Allah, dan masih banyak lagi. Perbedaan gender yang berkaitan erat dengan biologis dan ciri-ciri fisik tertentu. Dalam pendefinisian inklusi sosial sekilas mirip dengan arti pemberdayaan. Memiliki keterkaitan dengan penegakan HAM dan partisipasi. Karena banyaknya perbedaan pendapat serta pemahaman tentang gender, kali ini sedikit dibahas tentang gender dari segi pandangan Islam, dengan harapan membantu untuk menyikapi perbedaan tersebut. PEMBAHASAN Gender adalah pengelompokan gramatikal untuk benda menurut jenis kelaminnya. Utamanya digunakan dalam bahasa Eropa (AS. Hornby, n.d.). ungkapan tentang gender kemudian berkembang untuk membedakan peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Perbedaan jenis kelamin dan gender ini berkaitan erat dengan ciri-ciri biologis dan fisik tertentu. Tetapi gender lebih banyak terbentuk karena persepsi sosial budaya tentang steoretip perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat. Apakah gender merupakan suatu identitas yang natural. Pendidikan adalah sebuah tonggak untuk manusia mengendalikan dunia. Eksistensinya mampu memunculkan berbagai sudut pandang terhadap gejala sosial, budaya, ekonomi dan juga agama. Empat gejala ini sangat berkaitan erat sekali dengan manusia. Pendidikan islam (at-Tarbiyyah) adalah suatu pengajaran yang yang jangkauannya lebih luas, mulai dari anak-anak hingga tua. Dalam pendidikan islam, telah mengajarkan tentang ketaqwaan terhadap Allah SWT sejak dini, mulai dari ajaran tentang adanya surga dan neraka, manusia-manusia pilihan Allah, malaikat-malaikat Allah, dan masih banyak lagi. Kesetaraan gender yang tersirat didalam At-tariq dalam eskalasi kompetensi diri sebagai makhluk hidup serta kholifah di muka bumi. Semua manusia memiliki kesempatan serta hak dalam segala bidang, utamanya dalam bidang pendidikan. Perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki tanggung jawab masing-masing sebagai individu. Namun secara ontologis mereka adalah sama, sehingga dengan sendirinya semua hak laki-laki juga sama hak perempuan. Dalam bidang pendidikan laki-laki dan perempuan memiliki hak, kewajiban, peluang, dan kesempatan yang sama. Kesetaraan gender dalam islam sebenarnya telah diperjuangkan oleh para ulam untuk merealisasikan ajaran islam berdasarkan ajaran al-Qur’an dan Hadits. Perjuangan kesetaraan gender ini sudah ada sejak zaman nabi Muhammad SAW sampai saat sekarang. Peran perempuan dibidang pendidikan sudah lebih dulu di raih oleh istri tercinta nabi Muhammad SAW yakni Siti Aisyah R.A yang terkenal akan kecerdasannya dalam meriwayatkan beberapa hadits. Berangkat dari maraknya istilah gender ditahun 1977 saat para feminisme sepakat bahwa jenis kelamin dan perangkat reproduksi merupakan organ biologis yang bersifat alami. Feminisme sendiri memiliki arti “mempunyai sifat-sifat keperempuan”. Dua jenis kelamin natural yang biasa disebut laki-laki dan perempuan. Sedangkan gender mengambil bentuk sifat feminim dan maskulin sebagai bentuk identitasnya. Meskipun ada perbedaan dalam memahami asal muasal laki-laki dan perempuan, namun keduannya adalah sama-sama makhluk ciptaan Allah SWT. yang tidak ada bedanya dihadapan-Nya terkecuali tingkat ketaqwaannya. Humanisme sendiri adalah suatu ajaran yang tidak menggantungkan diri dengan doktrin-doktrin yang tidak memberi kebebasan pada individu. Artinya semua individu dibebaskan, tidak ada keterpaksaan antara satu sama lainnya. Semuanya bebas menentukan pilihan hidup masing-masing. Berarti dalam hal ini setiap laki-laki dan perempuan bebas dalam hal kehidupan mereka masing-masing. Seorang perempuan bebas memilih keinginan hidupnya, menjadi wanita karier, ibu rumah tangga, ataupun bisa keduanya. Sama halnya dengan laki-laki, ia dapat menentukan pilihannya ingin menjadi seorang laki-laki pekerja keras atau hanya sekedar bekerja semampunya. Betapapun islam telah mengubah dunia menjadi lebih adil. Islam mengangkat derajat perempuan dan memberinya kebebasan, kehormatan serta kepribadian independen. Bahkan didalam al-Qur’an sekalipun tidak ada ayat yang menegaskan keutamaan seseorang karena faktor jenis kelamin atupun gender. Dengan demikian, bertambah kuat pula bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Semua akan diberi hak yang sama sesuai dengan amal baik mereka masing-masing. Perempuan juga diberi kebebasan secara penuh dalam menentukan pasangan hidupnya, bahkan walinya dilarang menikahkannya secara paksa, maka pernikahan seorang gadis tidak akan terlaksana apabila belum mendapatkan izin dan persetujuannya. Perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum. Kesetaraan gender dalam pendidikan bukan berarti mempertentangkan antara laki-laki dan perempuan, melainkan suatu upaya untuk membangun relasi dan kesempatan yang sama antara keduanya. Jalur pendidikan melalui kurikulum berbasis gender adalah upaya untuk mewujudkan hal yang dimaksud. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pendidikan islam gender sebenarnya ingin memberikan penjelasan bahwa islam yang adil, gender memiliki beberapa dimensi yang saling keterkaitan tidak hanya mengorientasikan pada Tuhan semata, memiliki kesempatan dalam ruang keadilan, pemberdayaan, keimanan, tujuan mengintegrasikan tujuan dunia berdasar realita, dan kewajiban akhirat berdasarkan aturan agama. Pendidikan merupakan komponen pokok dalam pembinaan pondasi perkembangan sosial budaya. Dibenarkannya perbedaan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan akhirnya menimbulkan persoalan bias gender, yaitu pandangan yang membedakan peran, kedudukan dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun negara. Persoalan bias gender inilah yang akhirnya menimbulkan relasi gender yang timpang antara laki-laki dan perempuan sehingga terjadi deskriminasi, marginalisasi terhadap perempuan, subordinasi, stereotipe, beban ganda bahkan tindak kekerasan terhadap perempuan. Teks-teks relasi gender dalam islam telah dijelaskan dalam al-Qur’an, hadits, dan kitab-kitab fiqih. Islam dalam otoritas dan validitasnya adalah agama yang ramah perempuan, hal tersebut juga terbukti dari kandungan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits yang menempatkan kaum perempuan pada posisi setara dengan laki-laki dari berbagai segi. Perempuan punya haknya sama dengan laki-laki, dalam al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia banyak membahas tentang perempuan dalam banyak sisi kehidupan. Perbedaan laki-laki dan perempuan memang terlihat sangat jelas, dimana laki-laki diciptakan layaknya makhluk yang kuat, maskulin, cool, macho. Berlainan dengan perempuan yang diciptakan layaknya makhluk yang memiliki sifat ke ibuan, feminim, sopan, lemah lembut. Tetapi lemah lembutnya perempuan disini bukan berarti perempuan itu makhluk yang lemah. Perempuan punya definisi kuatnya masing-masing, kuat dengan cobaan yang sedang dihadapi, kuat fisiknya, kuat batinnya. Perempuan menurut pandangan saya, adalah seseorang yang pandai menutupi lukanya dengan keceriaan, menutupi lelahnya dengan senyuman. Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang terfokus membahas tentang perilaku, fungsi, dan peranan keduanya dilihat dari segi sosial dan budaya. Relasi gender yang kompleks, menghubungkan dua jenis manusia dalam berbagai segi. Mualai dari biologis, psikologis, sosiologis, ekonomi dan juga kekuasaan. Ketimpangan relasi inilah yang memunculkan berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan, seperti pemerkosaan, pemaksaan menjadi pelacur dan tindak deskriminasi lainnya. Disamping relasi yang timpang ada sisi relasi yang harmonis yaitu relasi yang saling menguntungkan. Posisi super ordinasi (dominan) suatu kelompok terjadi ketika masing-masing menjalankan fungsinya berdasarkan posisinya, sehingga masing-masing kelompok akan menggunakan posisinya untuk menguntungkan dirinya dan merugikan orang lain. Sistem membolehkan laki-laki dan perempuan menuntut ilmu secara bersama-sama telah menjadikan kedekatan atau relasi antara laki-laki dan perempuan adalah suatu hal yang umum. Dalam hal ini, keharmonisan relasi gender di mulai, yang akan menimbulkan dampak timbulnya berbagai masalah ketidakadilan gender. Namun hal diatas ada yang bingung, bagaimana untuk orang yang terkena suatu masalah namun padaakhirnya ketahuan dan diberikan sebuah hukuman atau tindakan dari pihak berwajib, apakah itu termasuk melanggar HAM ? oke, seperti yang kita ketahui bahwa negara Indonesia ini adalag negara hukum, dimana orang yang bertindak salah maka akan mendapat hukumannya yang setimpal. Semua sudah ada aturannya yang sudah ditulis di dalam buku UUD 1945, dan semua rakyat Indonesia harus mematuhi akan hal tersebut demi kebaikan bersama. Jadi, memberikan hukuman kepada orang yang bersalah dengan hukuman yang sebagaimana mestinya bukanlah suatu hal yang dapat diakatakan melanggar HAM. PENUTUP Kesetaraan gender dalam pendidikan bukan berarti mempertentangkan antara laki-laki dan perempuan, melainkan suatu upaya untuk membangun relasi dan kesempatan yang sama antara keduanya. Jalur pendidikan melalui kurikulum berbasis gender adalah upaya untuk mewujudkan hal yang dimaksud. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pendidikan islam gender sebenarnya ingin memberikan penjelasan bahwa islam yang adil, gender memiliki beberapa dimensi yang saling keterkaitan tidak hanya mengorientasikan pada Tuhan semata, memiliki kesempatan dalam ruang keadilan, pemberdayaan, keimanan, tujuan mengintegrasikan tujuan dunia berdasar realita, dan kewajiban akhirat berdasarkan aturan agama. Pendidikan merupakan komponen pokok dalam pembinaan pondasi perkembangan sosial budaya. Kesetaraan gender dalam pendidikan bukan berarti mempertentangkan antara laki-laki dan perempuan, melainkan suatu upaya untuk membangun relasi dan kesempatan yang sama antara keduanya. Jalur pendidikan melalui kurikulum berbasis gender adalah upaya untuk mewujudkan hal yang dimaksud. Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pendidikan islam gender sebenarnya ingin memberikan penjelasan bahwa islam yang adil, gender memiliki beberapa dimensi yang saling keterkaitan tidak hanya mengorientasikan pada Tuhan semata, memiliki kesempatan dalam ruang keadilan, pemberdayaan, keimanan, tujuan mengintegrasikan tujuan dunia berdasar realita, dan kewajiban akhirat berdasarkan aturan agama. Pendidikan merupakan komponen pokok dalam pembinaan pondasi perkembangan sosial budaya.

0 Komentar GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Post a Comment

Silakan anda berikan kritik, saran, masukan atau pertanyaan seputar Mikrotik pada kolom Komentar di bawah ini :

Back To Top