-->

Kumpulan Tutorial Mikrotik Indonesia

Belajar Mikrotik berupa Tutorial mikrotik, Setting Mikrotik Hotspot, Download Winbox Mikrotik ada disini Tutorial Mikrotik Indonesia blog

Wednesday, March 24, 2021

REKONSTRUKSI PERAN GENDER DALAM PERSPEKTIF SOSIAL MODERN DI INDONESIA

NAMA : AHMAD TAUFIQURROHMAN KELAS : GMI G REKONSTRUKSI PERAN GENDER DALAM PERSPEKTIF SOSIAL MODERN DI INDONESIA PENDAHULUAN Konsep gender menjadi persoalan yang menimbulkan pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, akademisi, maupun pemerintahan sejak dahulu dan bahkan sampai sekarang. Pada umumnya sebagian masyarakat merasa terancam dan terusik pada saat mendengar kata ‟gender‟. Determinan konsep gender pada lingkup dunia modern saat ini memang banyak sekali pro dan kontra bagi sebagian kalangan terlebih pada sisi keagamaan yang mana perempuan lebih banyak mendapatkan penekanan yang cukup besar daripada laki-laki. Hal tersebut dikarenakan pada kajian religus perempuan harus memperhatikan banyak pertimbangan sehingga bisa dikaitkan dengan pembagian peran yang adil. Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Pandangan mengenai konsep gender dan jenis kelamin saat ini sudah seharusnya dipahamkan agar tidak ada lagi salah persepsi tentang gender, apalagi tatanan kehidupan saat ini sudah banyak berkiblat dari budaya barat. Mereka banyak mengadopsi kebiasaan tersebut dan membandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia sehingga perlahan kebenaran mutlak peranan laki-laki dan pria tidak akan dibatasi dengan norma dan adat yang mengikat meskipun dengan batasan yang diterapkan. Konstruksi sosial merupakan sebuah pandangan kepada kita bahwa semua nilai, ideologi, dan institusi sosial adalah buatan manusia. cara pandang manusia itu membuat perbedaan dan keidaksamaan gender itu disebabkan oleh cara pandang masyarakat sosial. mengamati berbagai persoalan yang ada, menempatkan banyak hal yang bisa mengubah cara pandang orang terhadap hal-hal sepele dimasyarakat. Bisa diambil contoh, ketidaksetaraan gender juga dapat menimbulkan ketidakadilan, dalam hal ini dibidang pendidikan. Ketika terbentur masalah ekonomi, budaya masyrakat biasanya lebih mengutamakan anak laki-laki untuk diberikan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. PEMBAHASAN Kata “gender‟ dapat diartikan sebagai perbedaan peran, fungsi, status dan tanggungjawab pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari bentukan (konstruksi) sosial budaya yang tertanam lewat proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan demikian gender menyangkut aturan sosial yang berkaitan dengan jenis kelamin manusia laki-laki dan perempuan. Suatu peran maupun sifat dilekatkan kepada laki-laki karena berdasarkan kebiasaan atau kebudayaan biasanya peran maupun sifat tersebut hanya dilakukan atau dimiliki oleh laki-laki dan begitu juga dengan perempuan. Konsep gender menjadi persoalan yang menimbulkan pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, akademisi, maupun pemerintahan sejak dahulu dan bahkan sampai sekarang. Pada umumnya sebagian masyarakat merasa terancam dan terusik pada saat mendengar kata ‟gender‟. Determinan konsep gender pada lingkup dunia modern saat ini memang banyak sekali pro dan kontra bagi sebagian kalangan terlebih pada sisi keagamaan yang mana perempuan lebih banyak mendapatkan penekanan yang cukup besar daripada laki-laki. Hal tersebut dikarenakan pada kajian religus perempuan harus memperhatikan banyak pertimbangan sehingga bisa dikaitkan dengan pembagian peran yang adil. Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Pandangan mengenai konsep gender dan jenis kelamin saat ini sudah seharusnya dipahamkan agar tidak ada lagi salah persepsi tentang gender, apalagi tatanan kehidupan saat ini sudah banyak berkiblat dari budaya barat. Mereka banyak mengadopsi kebiasaan tersebut dan membandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia sehingga perlahan kebenaran mutlak peranan laki-laki dan pria tidak akan dibatasi dengan norma dan adat yang mengikat meskipun dengan batasan yang diterapkan. Salah satu contoh nyatayang sudah berkembang dalam budaya modern dan religius merupakan kesetaraan peran pendakwah yang juga banyak di dominasi oleh perempuan meskipun peranan laki-laki juga masih banyak dalam lingkup ini, sehingga hal tersebut mengubah pola pandang masyarakat terhadap ketidakbenaran analisis fungsi gender yang sudah ada. Seharusnya terwujudnya kesetaraan atau keadilan gender akan terlihat dan tidak adanya lagi diskriminasi antara perempuan dan laki-laki serta sama-sama memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas perkembangan serta memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut Runtutan skema kesetaraan gender pada lingkup sosial sudah memberikan banyak proses yang cukup lama dan sumbangsih kepada masyarakat perihal keadilan dan perbedaan antara gender dan jenis kelamin. kenyataannya, dalam perjalanan kehidupan memang banyak terjadi perbedaan peran sosial antara laki-laki dan perempuan yang pada akhirnya melahirkan perbedaan status sosial di mata publik, dimana laki-laki lebih sering kali diunggulkan dari perempuan melalui konstruksi sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwasannya semuanya dalam penerapan kesetaraan gender juga membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan instant dari awal mula penegakannya. Perbedaan gender tersebut antara laki-laki dan perempuan ditentukan oleh sejumlah faktor tertentu yang ikut membentuk, sehingga kemudian disosialisasikan dan diperkuat hingga terbentuk melalui ranah sosial atau kultural, dan didukung oleh interpretasi-interpretasi agama dan mitos-mitos Perempuan bekerja mencari nafkah karena tuntutan ekonomi lazim ditemui diberbagai kelompok masyarakat. Saat ini teknologi yang berkembang pesat serta kemudahan akses bagi semua aspek kehidupan membuka pintu peluang perempuan dan laki-laki dalam menjalankan peran, tuga, dan pekerjaan salah satunya pada kaum perempuan. Sebagai makhluk sosial yang memiliki keteguhan fisik dan batin, mereka dituntut untuk bisa bertahan pada kerasnya kehidupan apalagi untuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga pasti akan mengupayakan bekerja keras yang pada hakikatnya hal tersebut harusnya dilakukan oleh kaum laki-laki sebagi khalifah dan kepala keluarga. Selama ini, para penggiat gender cenderung melihat fenomena ini sebagai masalah perempuan, sehingga solusi yang diberikan lebih ditekankan kepada pribadi perempuan itu sendiri. Namun, disadari atau tidak, sesungguhnya permasalahan mendasar adalah masalah relasi antara perempuan dan laki-laki. Dengan menimbang hal tersebut bisa klasifikasikan bahwa karier perempuan pada lingkup sosial modern memang sangat dibutuhkan serta berati untuk mewujudkan keadilan HAM yang sudah ada. Perempuan berusaha untuk keluar dari peraturan-peraturan dalam kehidupannya yang telah mengekang keberlangsungan hidup mereka dan ingin menjadi apa yang wanita inginkan Konstruksi sosial merupakan sebuah pandangan kepada kita bahwa semua nilai, ideologi, dan institusi sosial adalah buatan manusia. Dari pernyataan tersebut bisa kita ambil, bahwasannya memang benar cara pandang manusia itu membuat perbedaan dan keidaksamaan gender itu disebabkan oleh cara pandang masyarakat sosial. mengamati berbagai persoalan yang ada, menempatkan banyak hal yang bisa mengubah cara pandang orang terhadap hal-hal sepele dimasyarakat. Bisa diambil contoh, ketidaksetaraan gender juga dapat menimbulkan ketidakadilan, dalam hal ini dibidang pendidikan. Ketika terbentur masalah ekonomi, budaya masyrakat biasanya lebih mengutamakan anak laki-laki untuk diberikan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Dunia pendidikan seolah tidak melakukan apa-apa untuk menolong dari keterpurukannya. Atas diskriminasi maupun faktor pemincu dari ketidakadilan tersebut, memunculkan masalah sosial baru pada masyarakat. Bahwasannya adanya keadilan gender itu bisa membuat mereka terutama kaum perempuan mendapatkan Hak dan kesempatan yang sama untuk berkontestasi maupun menunjukkan diri kepada lingkungan sosial jika mereka mampu dan memiliki kesempatan yang sama serta tidak bisa dianggap remeh. Menimbang perkembangan teknologi yang sangat pesat serta memasuki tantangan Revolusi Industri 4.0 yang semua siklus kehidupan tersambung serta terkoneksi melalui jaringan nirkabel Internet, disamping itu juga masih banyak permasalahan sosial dari masyrakat yang muncul perihal gender salah satunya adalah perempuan dari perspektif religius dan agama. Ideologi gender memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan agama, tetapi juga dipengaruhi atau mendapatkan legitimasi dari tafsir agama. Dampak buruk dari pelegitimasian ini adalah diyakininya perbedaan gender sebagai ketentuan Tuhan atau takdir yang final. Dengan demikian, tidak mudah bagi masyarakat untuk membedakan antara ketentuan dari Tuhan yang hakiki dengan kontruksi mindset realita dilingkup masyarakat sosial saat ini. Problematika yang dirasakan manusia sampai saat ini masih pada aspek sosial jika dilihat dari keadilan gender. Kaum sosial pada peradaban modern saat ini masih menimbang tentang tabi’at perempuan yang tidak sedikit akan menggerus peranan utama para laki-laki dalam khalifah di bumi. Dari adanya gender, laki-laki akan terancam kehilangan kewibawaan sebagai pemimpin dan pengendali utama tatanan kehidupan contohnya pada lingkup politik, sampai dengan keluarga. Pembagian kerja secara seksual, seringkali dikonstruksi berdasarkan gender. Dari sini bisa kita lihat bahwa hakikatnya memang peranan laki-laki dan perempuan memang berbeda, tetapi karena adanya gender maka tidak lagi dipandang melalui jenis kelamin. Pandangan mengenai konsep gender dan jenis kelamin saat ini sudah seharusnya dipahamkan agar tidak ada lagi salah persepsi tentang gender, apalagi tatanan kehidupan saat ini sudah banyak berkiblat dari budaya barat. PENUTUP Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Pandangan mengenai konsep gender dan jenis kelamin saat ini sudah seharusnya dipahamkan agar tidak ada lagi salah persepsi tentang gender, apalagi tatanan kehidupan saat ini sudah banyak berkiblat dari budaya barat. Mereka banyak mengadopsi kebiasaan tersebut dan membandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia sehingga perlahan kebenaran mutlak peranan laki-laki dan pria tidak akan dibatasi dengan norma dan adat yang mengikat meskipun dengan batasan yang diterapkan. Salah satu contoh nyatayang sudah berkembang dalam budaya modern dan religius merupakan kesetaraan peran pendakwah yang juga banyak di dominasi oleh perempuan meskipun peranan laki-laki juga masih banyak dalam lingkup ini, sehingga hal tersebut mengubah pola pandang masyarakat terhadap ketidakbenaran analisis fungsi gender yang sudah ada. Seharusnya terwujudnya kesetaraan atau keadilan gender akan terlihat dan tidak adanya lagi diskriminasi antara perempuan dan laki-laki serta sama-sama memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas perkembangan serta memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut Problematika yang dirasakan manusia sampai saat ini masih pada aspek sosial jika dilihat dari keadilan gender. Kaum sosial pada peradaban modern saat ini masih menimbang tentang tabi’at perempuan yang tidak sedikit akan menggerus peranan utama para laki-laki dalam khalifah di bumi.

0 Komentar REKONSTRUKSI PERAN GENDER DALAM PERSPEKTIF SOSIAL MODERN DI INDONESIA

Post a Comment

Silakan anda berikan kritik, saran, masukan atau pertanyaan seputar Mikrotik pada kolom Komentar di bawah ini :

Back To Top