-->

Kumpulan Tutorial Mikrotik Indonesia

Belajar Mikrotik berupa Tutorial mikrotik, Setting Mikrotik Hotspot, Download Winbox Mikrotik ada disini Tutorial Mikrotik Indonesia blog

Wednesday, April 7, 2021

DIMENSI GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PENDIDIKAN

Nama : Ahmad Taufiqurrohman Kelas : GMI G DIMENSI GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PENDIDIKAN A. PENDAHULUAN Guru di sekolah reguler perlu dibekali berbagai pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus. Di antaranya mengetahui siapa dan bagimana anak berkebutuhan khusus serta karakteristiknya. Dengan pengetahuan tersebut diharapkan guru mampu melakukan identifikasi peserta didik di sekolah, maupun di masyarakat sekitar sekolah. Identifikasi anak berkebutuhan khusus diperlukan agar keberadaan mereka dapat diketahui sedini mungkin. Program pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dapat diberikan. Pelayanan tersebut dapat berupa penanganan medis, terapi, dan pelayanan pendidikan dengan tujuan mengembangkan potensi mereka. Dalam rangka mengidentifikasi (menemukan) anak berkebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan tingkat kelainan anak, di antaranya adalah kelainan fisik, mental, intelektual, sosial dan emosi. Konsep anak berkebutuhan khusus memiliki arti yang lebih luas dibandingkan dengan pengertian anak luar biasa. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik, berbeda dengan anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini mengalami hambatan dalam belajar dan perkembangan. Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan belajar masing-masing anak. Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu : anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, yaitu akibat dari kelainan tertentu, dan anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer, yaitu mereka yang mengalami hambatan belajar dan perkembangan yang disebabkan kondisi dan situasi lingkungan. B. PEMBAHASAN Pendidikan inklusif merupakan paradigma baru pendidikan kita dan merupakan strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusif adalah mendidik anak yang berkebutuhan khusus akibat kecacatannya di kelas reguler bersama-sama dengan anak-anak lain yang non cacat, dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya, di sekolah yang ada di lingkungan rumahnya. Perkembangan terakhir dalam pendidikan kebutuhan khusus adalah pemikiran mengenai pendidikan inklusif. Pelaksanaan pendidikan inklusif di Indonesia dipayungi UUD 1945 pasal 3: tentang hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan, kemudian Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 pasal 32 tentang pendidikan khusus dan layanan khusus, penjelasan pasal 15 UU SISDIKNAS yaitu: “Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.” Pendidikan inklusif juga diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, dalam Pasal 1 disebutkan bahwa: “Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.” Dalam pemikiran inklusif, anak tanpa pengecualian dapat bersamasama belajar di kelas yang sama tanpa ada persiapan di kelas khusus terlebih dahulu. Untuk dapat mewujudkan pendidikan yang inklusif tersebut maka orientasi pembelajarannya adalah berpusat pada anak. Artinya bukan lagi Anak Berkebutuhan Khusus yang harus menyesuaikan diri agar cocok dengan setting yang ada melainkan sekolah sebagai institusi pendidikan yang harus membuat penyesuaian agar tercipta pembelajaran untuk semua. Menurut Skjørten (2003) “…Untuk menciptakan hal tersebut maka diperlukan fleksibilitas atas kebijakan-kebijakan, kreativitas dan kepekaan”. Pendidikan untuk semua berarti pendidikan yang ramah untuk semua dengan pendekatan pendidikan yang berusaha menjangkau semua siswa tanpa terkecuali. Semua siswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh manfaat yang maksimal dari pendidikan. Hak dan kesempatan itu tidak dibedakan oleh keragaman karakteristik individu secara fisik, mental, sosial, emosional, dan bahkan status sosial ekonomi. Akses pemerataan yang berkualitas dan terbuka serta ramah terhadap pembelajaran dengan mengedepankan tindakan menghargai dan merangkul perbedaan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif sudah dilaksanakan. Pendidikan inklusif sebagai pendidikan yang ramah untuk semua anak dengan sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif merupakan sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah tersebut menyediakan program pendidikan yang layak, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil (Stainback, 1980). Di dalam sekolah inklusif setiap siswa sesuai dengan kebutuhan khususnya diusahakan dapat dilayani secara optimal. Selain itu juga melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian mulai dari kurikulum, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Karakteristik dalam pendidikan inklusi tergabung dalam beberapa hal seperti hubungan ramah dan hangat. Guru selalu berada di dekat siswa dengan wajah terarah pada anak dan tersenyum. Karakteristik selanjutnya yakni pengaturan tempat duduk bervariasi, seperti duduk berkelompok di lantai membentuk lingkaran atau duduk di bangku bersama-sama, sehingga mereka dapat melihat satu sama lain. Guru menyusun rencana harian dengan melibatkan anak, seperti meminta siswa membawa media belajar yang murah dan mudah didapat ke dalam kelas untuk dimanfaatkan dalam pelajaran tertentu. Materi belajar dengan berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran yang disampaikan guru, misalnya pembelajaran matematika disampaikan melalui kegiatan yang lebih menarik, menantang, dan menyenangkan. Ada juga bermain peran menggunakan poster dan wayang untuk pelajaran bahasa. Karakteristik terakhir yakni evaluasi penilaian, observasi, portofolio, yakni karya anak dalam kurun waktu tertentu dikumpulkan dan dinilai. Pendidikan karakter sangat diperlukan utamanya bagi siswa yang bersekolah di sekolah inklusif untuk mendidik karakter mereka menjadi siswa yang siap dengan heterogenitas lingkungan sekolahnya. Fungsi pendidikan karakter adalah (1) untuk memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultural; (2) mewujudkan peradaban yang cerdas, berbudi luhur, dan memiliki kontribusi dalam mengembangkan kehidupan manusia, mengembangkan nilai karakter agar berhati, berpikiran, dan berperilaku yang baik serta memiliki sikap keteladanan; (3) mewujudkan sikap warganegara yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam harmoni, hal tersebut sangat sesuai dengan konsep inklusi. Selain itu dari ke 18 pilar pendidikan karakter terdapat pilar nilai toleransi, semangat kebangsaan, bersahabat, cinta damai, peduli lingkungan dan peduli sosial yang merupakan modal dalam penyelenggaraan pendidikan inklusi. Dengan penerapan pendidikan karakter di sekolah inklusif, selain siswa akan memiliki karakter yang baik dan menambah nilai positif bagi dirinya, pendidikan karakter juga akan membantu siswa berkebutuhan khusus dalam memperoleh penerimaan dan kepedulian dari teman-teman belajarnya sehingga layanan pendidikan dapat berjalan optimal. Integrasi adalah penyediaan pendidikan yang berkualitas bagi siswasiswa dengan kebutuhan khusus di sekolah reguler. 'apakah integrasi dapat terjadi atau tidak di sekolah reguler tergantung kepada variabel guru. Terutama terkait dengan kemauan mereka untuk mengambil tugas dan kemampuan untuk melakukannya. Terdapat dua variabel yang saling berhubungan, yaitu guru seperti halnya yang lain mempunyai keinginan untuk melaksanakan tugas ketika mereka mempunyai kemampuan dan sumbersumber dan memiliki keinginan untuk menggunakannya. Secara lebih umum variabel-variabel tersebut tergantung dari faktor-faktor lain. Integrasi tidak tergantung pada variabel guru tetapi juga faktor lain harus dipertimbangkan . Reformasi sekolah di sebagian besar negara yang melakukan integrasi dipandang bahwa integrasi sebagai bentuk reformasi sekolah, tergantung kepada dinamika guru sebagai variabel yang dipahami dengan baik. Pendidikan Integrasi adalah suatu sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk belajar dalam waktu tertentu di sekolah regular sesuai dengan kelas yang ada di Sekolah Luar Biasa misalnya hanya dalam pelajaran kesenian atau olah raga. Jadi peserta didik SLB bersama dengan peserta didik regular berada dalam kelas yang sama. Terdapat jenis-jenis pendidikan integrasi. Jenis pertama adalah dimana pada suatu sekolah regular terdapat kelas khusus untuk siswa-siswa SLB yang sejenis misalnya hanya untuk gangguan visual atau gangguan intelektual saja. Mereka yang dengan kebutuhan pendidikan khusus tetap diajar oleh guru SLB. Pengintegrasian diatur apakah pada mata pelajaran tertentu saja anak-anak dalam kelas khusus berintegrasi ke kelas regular atau hanya pada waktu istirahat. Dalam integrasi tersebut diperlukan asesmen untuk anak berkebutuhan khusus. C. PENUTUP Pendidikan inklusif merupakan paradigma baru pendidikan kita dan merupakan strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat. “Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.” Pendidikan inklusif juga diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, dalam Pasal 1 disebutkan bahwa: “Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.” Terdapat jenis-jenis pendidikan integrasi. Jenis pertama adalah dimana pada suatu sekolah regular terdapat kelas khusus untuk siswa-siswa SLB yang sejenis misalnya hanya untuk gangguan visual atau gangguan intelektual saja. Mereka yang dengan kebutuhan pendidikan khusus tetap diajar oleh guru SLB. Pengintegrasian diatur apakah pada mata pelajaran tertentu saja anak-anak dalam kelas khusus berintegrasi ke kelas regular atau hanya pada waktu istirahat. Dalam integrasi tersebut diperlukan asesmen untuk anak berkebutuhan khusus.

0 Komentar DIMENSI GENDER SOSIAL INKLUSI DALAM PENDIDIKAN

Post a Comment

Silakan anda berikan kritik, saran, masukan atau pertanyaan seputar Mikrotik pada kolom Komentar di bawah ini :

Back To Top