-->

Kumpulan Tutorial Mikrotik Indonesia

Belajar Mikrotik berupa Tutorial mikrotik, Setting Mikrotik Hotspot, Download Winbox Mikrotik ada disini Tutorial Mikrotik Indonesia blog

Thursday, April 15, 2021

GENDER SOSIAL INKLUISI DALAM MANAJEMEN DAN PEMBELAJARAN (Komponen dan Pembelajaran Berbasis Gender Sosial Inkluisi)

NAMA : AHMAD TAUFIQURROHMAN KELAS : GMI G GENDER SOSIAL INKLUISI DALAM MANAJEMEN DAN PEMBELAJARAN (Komponen dan Pembelajaran Berbasis Gender Sosial Inkluisi) A. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat. Pendidikan merupakan wahana penting dan media yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan sikap kerja di kalangan warga masyarkat. Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak berkebutuhan khusus dan atau anak yang mengalami hambatan akses pendidikan untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satuan pendidikan sekolah terdekat secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sedangkan pengertian pendidikan tidak inklusi (SLB) yaitu pendidikan khusus bagi mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/ sosial, baik dalam tingkat keterbatasan maupun kelebihan. Pendidikan inklusi yang menekankan kepada persamaan hak dan dan akses pendidikan kepada setiap warga Negara. Pendidikan nasional Indonesia sebagai wahana dan wadah pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia perlu berwawasan gender dalam artian tidak boleh mendiskriminasikan jenis kelamin tertentu atau bias gender, melainkan harus ada unsur keadilan, keterbukaan dan keseimbangan gender. Hal ini sesuai dengan komitmen internasional maupun nasional yang telah menyepakati untuk menghapus kesenjangan gender dalam berbagai kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Pada era globalisasi dimana kemajuan teknologi semakin tidak terbendung, perempuan memiliki kontribusi yang besar, signifikan, dan tidak bisa dianggap remeh. Tidak sedikit perempuan-perempuan hebat yang berpengaruh besar terhadap kemajuan zaman. Di era penjajahan, kita mengenal sosok Kartini yang berhasil mengangkat derajat kaum perempuan. B. PEMBAHASAN Aristoteles, filsuf terbesar sepanjang sejarah, mendefinisikan manusia sebagai “binatang berpikir”. Definisi ini masih diterima secara universal sampai hari ini. Ia bermakna bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan dengan potensi intrinsik ganda: berpikir, bermoral sekaligus makhluk seksual. Di atas itu ia adalah makhluk yang berkembang. Maka sepanjang ciptaan Tuhan bernama manusia, dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi berpikir, bermoral, berhasrat seksual dan bereproduksi. Jika dalam perbincangan kebudayaan dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda, maka pertanyaannya adalah “apakah yang membedakan laki-laki dan perempuan?”. Dalam kajian feminisme selalu dikatakan bahwa laki-laki dan perempuan hanya dibedakan dari aspek biologisnya. Perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal diantaranya dibentuk ,disosialisasikan,diperkuat,bahkan diperkuat dengan sosial dan keagamaan. Gender bukan hanya ditujukan kepada perempuan semata, tetapi juga kepada laki-laki. Hanya saja, yang dianggap mengalami posisi termarginalkan sekarang adalah pihak perempuan, maka perempuanlah yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan untuk mengejar kesetaraan gender yang telah diraih oleh laki-laki beberapa tingkat dalam berbagai peran manajemen pendidikan ialah:“upaya seseorang untuk mengerahkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, dan menerima pertanggung jawaban pribadi untuk mencapai pengukuran hasil yang ditetapkan”. Dengan demikian, manajemen pendidikan lebih ditekankan pada upaya seorang pemimpin untuk menggerakkan dan pengelola sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan. Manajemen diartikan sebagai ilmu karena merupakan suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen diartikan sebagai kiat karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Adapun manajemen diartikan sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode etik. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat. Pendidikan merupakan wahana penting dan media yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan sikap kerja di kalangan warga masyarkat. Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak berkebutuhan khusus dan atau anak yang mengalami hambatan akses pendidikan untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satuan pendidikan sekolah terdekat secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sedangkan pengertian pendidikan tidak inklusi (SLB) yaitu pendidikan khusus bagi mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/ sosial, baik dalam tingkat keterbatasan maupun kelebihan. Pendidikan inklusi yang menekankan kepada persamaan hak dan dan akses pendidikan kepada setiap warga Negara. Pengelolaan atau manajemen merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi untuk mencapai tujuan. Sedangkan Sekolah lnklusi menurut Rainer adalah “sekolah yang menampung semua pesarta didik yang normal maupun berkelainan di kelas yang sama”. Sekolah inklusi menyediakan program pendidikan yang layak dan menantang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap peserta didik. Sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak untuk dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut dan saling membantu dengan guru, teman sebaya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Pada hakikatnya pendidikan inklusif bagi anak luar biasa di Indonesia terjadi ketika sistem pendidikan yang ada kurang mampu memberikan perubahan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dimunculkannya sudah lama, yaitu sejak tahun 1960-an yang ditandai dengan berhasil diterimanya beberapa lulusan SLB tunanetra di Bandung masuk ke sekolah umum, meskipun ada upaya penolakan dari pihak sekolah. Lambat laun terjadi perubahan sikap masyarakat terhadap kecacatan dan beberapa sekolah umum bersedia menerima siswa tunanetra. Selanjutnya, pada akhir 1970-an, pemerintah mulai memberi perhatian terhadap pentingnya pendidikan integrasi demi membantu anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa beradaptasi dengan lingkungan baru mereka. Konsep penting yang terdapat dalam sekolah inklusif memungkinkan untuk melakukan pembaruan demi memperjuangkan anak berkebutuhan khusus atau berkelainan. Kemunculan konsep sekolah inklusif tidak lepas dari carut-marut sistem pendidikan bagi kalangan penyandang cacat atau difabel yang kurang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Perkembangan pendidikan inklusi saat ini khususnya di Indonesia berkembang cukup pesat dan semakin diterima. Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah sekolah inklusif bukan bermaksud untuk mencampuradukkan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya, melainkan hanya berupaya memberikan kesempatan kepada mereka yang mengalami keterbatasan agar juga bisa mengenyam pendidikan secara layak dan memberikan jaminan masa depan yang lebih cerah. Pendidikan inklusif merupakan suatu strategi untuk mempromosikan pendidikan universal yang efektif karena dapat menciptakan sekolah yang responsif terhadap beragam kebutuhan aktual dari anak dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan inklusif menjamin akses dan kualitas. Satu tujuan utama inklusi adalah mendidik anak yang berkebutuhan khusus akibat kecacatannya di kelas reguler bersama-sama dengan anak-anak lain yang non- cacat, dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya, di sekolah yang ada di lingkungan rumahnya. Hubeis menjelaskan peran gender dalam laki- laki dan perempuan diklasifikasikan dalam tiga peran pokok yaitu peran reproduktif (domestik), peran produktif (publik), dan peran sosial (masyarakat). Pembelajaran di sekolah formal maupun sekolah luar biasa pasti membutuhkan manajemen pembelajaran yang bagus agar tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. Makna manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat dan profesional. Manajemen diartikan sebagai ilmu karena merupakan suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen diartikan sebagai kiat karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Adapun manajemen diartikan sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode etik.20 Manajemen sebagai suatu sistem yang setiap komponennya menampilkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian maka manajemen merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Pencapaian tujuan-tujuan organisasi dilaksanakan dengan pengelolaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (learding), dan pengawasan (controlling). Adapun fungsi manajemen itu : 1. Perencanaan (Planning) Secara sederhana perencanaan dapat dirumuskan sebagai penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan. Dalam pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). 2. Pengorganisasian (organizing) proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan untuk mengatur dan menghubungkan sumber-sumber belajar, sehingga dapat mewujudkan tujuan belajar. 3. Pergerakan (Actuating) usaha atau tindakan dari pimpinan dalam rangka menimbulkan kemauan dan membuat bawahan tahu pekerjaannya sehingga dengan sadar menjalankan tugasnya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. 4. Mengevaluasi Mengevaluasi dalam pembelajaran dapat dijadikan motivator dan menstimulasasikan guru dan santri sehingga dapat mewujudkan tujuan prestasi belajar yang baik. 5. Pengawasan (controling) Pengawasan adalah fungsi atau tugas dari pimpinan untuk melihat sejauhmana program atau rencana yang telah ditetapkan dilaksanakan dan mengambil sikap tegas dalam pelaksanaan program selanjutnya. Kesetaraan gender merupakan persoalan klasik yang belum sepenuhnya dapat diselesaikan. Pastinya harus ada kesetaraan gender dalam pendidikan,Untuk mengarah pada terwujudnya keadilan gender, maka perlu: 1) memberlakukan keadilan gender dalam pendidikan dan menghilangkan pembedaan pada peserta didik. 2) mengupayakan keadilan gender dikalangan staf dan pimpinan. meredam sebabsebab terjadinya kekerasan dan diskriminasi melalui materi pengetahuan yang diajarkan, proses pembelajaran yang dilakukan, dan menentang segala ide dan pemikiran yang mengandung stereotipe negatif. C. PENUTUP Manajemen pendidikan ialah:“upaya seseorang untuk mengerahkan dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif, dan menerima pertanggung jawaban pribadi untuk mencapai pengukuran hasil yang ditetapkan”. Dengan demikian, manajemen pendidikan lebih ditekankan pada upaya seorang pemimpin untuk menggerakkan dan pengelola sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan. Manajemen diartikan sebagai ilmu karena merupakan suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Manajemen diartikan sebagai kiat karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Adapun manajemen diartikan sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntut oleh suatu kode etik. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat. Pendidikan merupakan wahana penting dan media yang efektif untuk mengajarkan norma, mensosialisasikan nilai, dan menanamkan sikap kerja di kalangan warga masyarkat. Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak berkebutuhan khusus dan atau anak yang mengalami hambatan akses pendidikan untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satuan pendidikan sekolah terdekat secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sedangkan pengertian pendidikan tidak inklusi (SLB) yaitu pendidikan khusus bagi mereka yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/ sosial, baik dalam tingkat keterbatasan maupun kelebihan. Pendidikan inklusi yang menekankan kepada persamaan hak dan dan akses pendidikan kepada setiap warga Negara. Pengelolaan atau manajemen merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi untuk mencapai tujuan.

0 Komentar GENDER SOSIAL INKLUISI DALAM MANAJEMEN DAN PEMBELAJARAN (Komponen dan Pembelajaran Berbasis Gender Sosial Inkluisi)

Post a Comment

Silakan anda berikan kritik, saran, masukan atau pertanyaan seputar Mikrotik pada kolom Komentar di bawah ini :

Back To Top